Stunting, Mari Kita Atasi Bersama

Published: Monday, 30 July 2018

 

Tanah Bumbu – Hasil RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013 menunjukan prevalensi stunting (anak kerdil) mencapai 37,2%. Disisi lain hasil Riset Bank Dunia tahun 2017 menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melakukan monitoring dan evaluasi pencegahan anak kerdil (stunting) di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintah lainnya seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bagian Tata Pemerintahan Setda, dan Balai Litbangkes Tanah Bumbu Kementerian Kesehatan RI. 

Pelaksanaan kegiatan monev stunting di Kabupaten Tanah Bumbu dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 17 s.d 19 Juli dan 23 s.d 25 Juli 2018 sesuai undangan Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) nonor :050/909/sosbud1/Bappedatgl 16 Juli 2018 perihal evaluasi lapangan Anak Kerdil (Stunting. Dan ditambah 1 hari lagi pada tanggal 26 Juli 2018.

Hari pertama (Selasa, 17 Juli 2018) pelaksanaan monev stunting dilakukan di Desa Pulau Salak dan Desa Pagarruyung Kecamatan Kusan Hilir dengan prevalensi persentase jumlah stunting masing-masing 34,48% dan 25% (berdasarkan data daerah).

Hari kedua (Rabu, 18 Juli 2018) monev stunting dilakukan di Desa Rantau Panjang Hulu dan Desa Pulau Tanjung Kecamatan Kusan Hilir dengan prevalensi persentase jumlah stunting masing-masing 27,78% dan 30% (berdasarkan data daerah). Desa rantau panjang hulu terdiri dari 3 RT dan dan 143 kepala keluarga merupakan daerah tertinggi nomor dua penderita stunting di Kabupaten Tanah Bumbu setelah Desa Pulau Salak. 

Hari ketiga (Kamis, 19 Juli 2018) monev stunting dilakukan di Desa Pejala dan Desa Jukueja Kecamatan Kusan Hilir dengan prevalensi persentase jumlah stunting masing-masing 24% dan 20,83% (berdasarkan data daerah).

Hari keempat (Senin, 23 Juli 2018) monev stunting dilakukan di Desa Karang Intan Kecamatan Kuranji dengan prevalensi persentase jumlah stunting sebanyak 20,75% (berdasarkan data daerah).

Hari kelima (Selasa, 24 Juli 2018) monev stunting dilakukan di Desa Pandan Sari Kecamatan Karang Bintang dengan prevalensi persentase jumlah stunting sebanyak 21,14% (berdasarkan data daerah).

Hari keenam (Rabu, 25 Juli 2018) monev stunting dilakukan di Desa Guntung Kecamatan Kusan Hulu dengan prevalensi persentase jumlah stunting sebanyak 21,14% (berdasarkan data daerah).

Hari ketujuh (Kamis, 26 Juli 2018) kegiatan evaluasi stunting kembali dilaksanakan sebagai tambahan kegiatan evaluasi stunting dengan tujuan desa   Batu Ampar Kecamatan Simpang Empat walaupun desa tersebut tidak termasuk dalam daftar namun potensi stuntuing pada desa tersebut cukup tinggi sehingga diperlukan koordinasi dengan pihak desa, kader pos yandu , puskesmas darul azhar sebagai pembina posyandu desa batu ampar dan aparat desa terkait. 

Untuk mengatasi stunting di desa batu ampar sebagai desa yang ada di wilayah kerja PT Sinar Mas dengan program CSR sebagai bantuan untuk mengatasi masalah stunting didesa Batu Ampar, demikian di tuturkan oleh Kepala Desa Batu ampar, Al Kifli di Desa batu Ampar.

“Peran aktif desa sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian stunting di setiap desa” tutur Bapak Rahmadi selaku kepala Bapeda Tanah Bumbu, karena desa merupakan ujung tombaknya, jalan tidaknya program disuatu desa sangat berpengaruh terhadap stunting seperti peran posyandu, dan PKK. Sedangkan 30% faktor utama dari stunting sendiri adalah Gizi.

Menurut Ibu Narni sebagai Staf Ahli Bupati Tanah Bumbu Bidang Kemasyarakatan dan SDM “ masalah stunting di Desa Pulau Tanjung terjadi karena dua faktor, yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung berupa apa yang dimakan dalam bentuk kualitas dan kuantitas, dan penyakit. Sedangkan Faktor tidak langsungnya berupa ketersediaan makanan didaerah tempat tinggal, sanitasi, kawin muda, keluarga, lingkungan dan kemajuan iptek”.

“Efek jangka pendek dari stunting adalah pertumbuhan tidak normal (perkembangan terhambat), kecerdasan menurun”, kata ibu Dr. Yeni dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu, sedangkan efek jangka panjangnya adalah sulit bekerja untuk bidang tertentu yang membutuhkan syarat tinggi badan, kerusakan otak yang menetap, muncul penyakit kronis jantung, kolesterol, dan lain-lain.

Dari hal tersebut diatas disimpulkan ada 3 (tiga) unsur yang harus dipenuhi untuk menyatakan seseorang  mengalami stunting yaitu : 

1. Tubuh pendek 

2. Kecerdasan kurang.

3. Masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan lain-lain.

Pada kegiatan didesa Juku Eja, Juhairiyah, peneliti dari Balai Litbangkes Tanah Bumbu, menyatakan bahwa pada penelitian pada anak SD  didesa Juku eja pada tahun 2016 yang lalu ditemukan +82% mengalami kecacingan . Kecacingan pada anak tentunya bisa membuat anak mengalami stunting karena makanan yang masuk kedalam tubuh,  tidak sampai pada tubuh karena sari makanan diambil oleh cacing. Kebiasaan masyarakat, apalagi anak-anak tidak mencuci tangan pada saat akan makan merupakan salah satu hal yang bisa membuat cacing masuk kedalam tubuh manusia, tuturnya. 

Hal ini terkait juga kegiatan penelitian laboratorium Parasitologi di tahun 2018 dimana ditemukan juga jenis cacing pita krdil yang didapat pada anak sekolah, juga berada pada tikus yang ditelii yang ditangkap di Desa Juku Eja. Sehingga resiko penularan cacing pita erdil ini dapat menular pada warga di Desa Juku Eja melalui tanah yang terkontaminasi kotoran tikus yang mengandung telur cacing. Bagi warga diharapkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan melaksanakan  kebersihan lingkungan dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktifitas.

Kepala sub bagian Sosial dan Budaya Bappeda Kabupaten Tanah Bumbu, Akhmad Sobari menyatakan akan melakukan koordinasi lagi dengan Balai Litbangkes Tanah Bumbu untuk mendapatkan informasi yang lebih baik lagi mengenai penelitian yang sudah dilaksanakan oleh Balai Litbangkes Tanah Bumbu untuk menjadikan data dan hasil penelitian tersebut sebagai sumber data pada penentuan kebijakan pemerintah. Beliau juga menambahkan akan mengundang Balai Litbangkes Tanah Bumbu sebagai perwakilan dari Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI untuk menjadi nara sumber pada kegiatan Bappeda dimasa yang akan datang.

Untuk data-data penelitian yang telah dilaksanakan oleh Balai Litbangkes Tanah Bumbu dan juga penelitian yang dilaksanakan oleh seluruh satker yang ada di Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dapat dibuka melalui E-Riset yang ada pada pojok kiri Aplikasi website dibawah ini. (Musdepi A & Romi WK)

 

**********

Hits: 190