Survei Tikus : "Eksplorasi Tikus Yang Kaya Akan Parasit"

Published: Tuesday, 25 December 2018

Tanah Bumbu - Laboratorium Parasitologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu - melalui survei tikus yang dilaksanakan bekerjasama dengan Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Biomolekuler, dalam kegiatan Pemeriksaan Sampel Air dan Leptospirosis - kembali melakukan pemeriksaan ektoparasit dan endoparasit pada tikus.

Jika dalam survei tikus sebelumnya (awal Juli 2018) ditemukan tikus spesies Rattus tanezumi dan Rattus exulans yang berhabitat di wilayah Puskesmas Pagatan : Desa Juku Eja Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu, maka di wilayah kerja Puskesmas Batulicin : Desa Batulicin Kecamatan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu (pertengahan Desember 2018) ditemukan tikus spesies Rattus norvegicus.

Spesies tikus yang hidupnya dekat dengan manusia, yaitu tikus rumah (Rattus  tanezumi), tikus got (Rattus norvegicus), dan Rattus exulans, diketahui berperan besar dalam menyumbang kontaminasi makanan dan air yang dikonsumsi manusia, melalui feses yang dikeluarkannya, maupun melalui perantaraan parasit yang hidup pada tubuh tikus seperti kutu dan pinjal. Penyakit yang dapat disebarkan dengan perantara tikus antara lain himenolepiasis (cacing pita kerdil), strobilocerkosis, dan penyakit meningocephalitis.

Kegiatan di Laboratorium Parasitologi diawali dengan pembiusan secara injeksi pada tikus, dan melakukan pencarian ektoparasit yang biasanya berhabitat di bulu-bulu tikus. Processing tikus dilanjutkan dengan mengidentifikasi spesies tikus berdasarkan panjang badan, panjang ekor, panjang telinga, panjang tengkorak, dan panjang kaki belakang tikus, warna bulu pada punggung (dorsal), warna bulu dada-perut (ventral), dan warna ekor tikus, serta jumlah puting susu (mammae). 

Selanjutnya pembedahan dilakukan untuk mencari endoparasit berupa cacing yang biasa menginfeksi tikus di organ usus, hati, jantung. Pemeriksaan telur cacing dilakukan pada kotoran tikus yang diambil di usus besar. 

Pada proses penyikatan dan penyisiran bulu tikus Rattus norvegicus tidak ditemukan ektoparasit satu ekor pun.

Sedangkan endoparasit yang ditemukan adalah: cacing pita stadium dewasa di organ usus tikus: Hymenolepis sp., dan cacing pita stadium strobilocercus di organ hati tikus: Taenia taeniaeformis.

Pada pemeriksaan kotoran tikus ditemukan telur cacing pita Hymenolepis diminuta, dan ditemukan telur cacing (mirip cacing tambang yang mulai berkembang menjadi larva pada manusia) yang diduga adalah telur cacing Nippostrongilus brassiliensis, yaitu cacing yang menginfeksi organ paru tikus.

Laboratorium Parasitologi kini menyimpan awetan basah tikus Rattus norvegicus jantan dan betina, serta preparat slide ektoparasit dan endoparasit pada tikus, sehingga dapat digunakan sebagai pengenalan dan pembelajaran yang dapat dilihat secara langsung maupun secara mikroskopis.

Masih banyak yang perlu dieksplorasi dari seekor tikus: selain endoparasit (Hymenolepis diminuta dan Hymenolepis nana, Taenia taeniaeformis, Nippostrongilus brassiliensis, Angiostrongylus  cantonensis), ektoparasit seperti kutu dan pinjal yang hidup di badan tikus dapat menularkan penyakit Pes, Rickettsia, dan Himenolepiasis pada manusia. Tikus dapat menularkan penyakit dari golongan virus, bakteri, protozoa, cacing, jamur, arthropoda, dll, hingga yang terkenal adalah penyakit Leptospirosis.

Dalam pembedahan tikus juga dilakukan koleksi organ ginjal untuk dilakukan pemeriksaan Leptospirosis oleh Laboratorium Mikrobiologi bekerjasama dengan Laboratorium Biomolekuler. (Annida)

 

**********

Hits: 28